Mimpi
Sebuah mimpi sebenarnya adalah sebuah kenyataan...karena dia hidup bersama pikiran kita di dalam jangka waktu yang cukup panjang. Ia nyata seperti halnya diri kita. Ia berproses sesuai siklus dan perjalanan kehidupan kita. Pada suatu saat dia terhempas di atas batu cadas kenyataan pahit, lalu kadangkala sesekali menikung di jalan lain...atau pergi menyusuri labirin dan terlupakan. Namun tidak pernah benar-benar lenyap dan punah. Aku selalu percaya mimpi adalah sebuah kenyataan yang tertunda...
Aku dan mimpiku adalah sebuah kenyataan. Aku membawa mimpiku, kemarin, hari ini, sekarang dan nanti. Seperti kelindan yang bergumul bersama, sehingga ia merasuk mengubah dirinya menjadi aku setiap saatnya. Begitu pula aku masuk ke dalam mimpiku laiknya seseorang menuju sebuah pintu gerbang yang terbuka dan merasakan sebuah perjalanan tanpa hambatan, karena ia adalah bagian dari kepemilikkanku, bukan ranah orang lain. Saat orang lain mengingatkanku bahwa mimpi adalah sebuah fatamorgana, aku menolaknya. Mimpiku menjadi kenyataan setiap waktu. Bagiku ia adalah butiran darah yang menggeliat. Ia adalah sel yang meregenerasi dirinya. Ia punya cahaya pedang yang berkilat menembus matahari. Ia adalah cercah kehidupan yang membuatku bertahan melalui epaorasi
Aku bukan bermimpi bahkan tidak memimpikan sesuatu, atau pun bermimpi-mimpi tentang sebuah impian. Karena bagiku mimpi adalah kenyataan setiap saatnya. Ia hanya sebuah jeda sesaat dalam sebuah rangkaian proses. Mimpi adalah kenyataan tentang aku yang tertunda...
Aku menanti penuh intens, menemukan kunci-kunci dari kehidupan masa laluku yang sudah lampau dan terlewati tanpa tercatat di dalam benak dan ingatanku. Aku menemukan sebuah rangkaian -- mata rantai kehidupan. Bukan dalam bentuk dongeng-dongeng di perpustakaan (yang akan aku tolak sepenuhnya). Ini mungkin lebih kepada sebuah legenda hidup, tidak ada hal lainnya. Namun ini juga soal kekinian. Sekarang. Bumi ini pada saat ini. Bisa saja merupakan seorang perempuan atau laki-laki. Manusia yang ada kini. Ini berkaitan dengan bahasa, keimigrasian, kesusasteraan, seni dan kesenian. Dalam artikulasi lebih luas mungkin saja menyangkut benda-benda artifisial seperti kapal, mesin-mesin, politik, kepercayaan, pengembangan ilmu-ilmu modern atau bahkan hubungan antar bangsa. Peradaban. Serta semua yang terjadi pada hari ini...sebuah masa.
Mimpi adalah juga sebuah keajaiban. Entah mengapa dia sanggup hidup jutaan bahkan mungkin dengan angka miliaran digital di dalam kepala seorang manusia. Tepatnya dalam kehidupan manusia. Bagiku mimpi adalah bagian dari keajaiban. Bagiku satu detik peristiwa yang melompat di hadapanku adalah keajaiban. Ketika aku melangkah di pantai, dan kakiku menyentuh pasir dan hangatnya air laut terasa masuk ke dalam jiwaku. Membuat puisi serta pemikiran terlahir dari benakku, adalah keajaiban. Atau bahkan ketika aku menikmati makanan yang tersaji. Melintasi pejalan kaki di pelintasan antara gedung-gedung tinggi. Mengusap airmata tangis. Mendengarkan detak detik jarum jam di dinding...Ikan-ikan yang berenang di setiap lautan yang berbeda...Semua adalah hal-hal asing. Hal-hal ajaib. Hal-hal mimpi. Namun tetap adalah kenyataan.
Aku tidak pernah sungguh-sungguh menyadari kapan sebenarnya sebuah inti-pati pemikiran ini, mengintip dalam kehidupanku. Mengendap-endap mencuri setiap helai pemikiranku. Melakukan investigasi dan memantau diriku di setiap detiknya, bahkan melalui nafasku. Sehingga ia menjadi intrinsik di dalamku. Seolah-olah aku tidak memiliki insulator (penyekat) apa pun di dalam kehidupanku. Mimpi itu sudah berubah bentuk menjadi aku. Aku berada di dalam lipatan yang belum terlipat sepenuhnya. Menemukan hidup ini selalu ada jeda. Selalu ada antara. Mungkin kita menyebutnya sebagai sekat. Atau mungkin semacam membran. Aku menamakannya sebagai waktu. Ya. Aku melintas di antara jeda. Aku sang pelintas waktu. Pengembaraan kosmik membawaku ke sini.
"Aku adalah orang pertama bagi diriku sendiri". kataku pada diriku sendiri. "Tentu saja bukan", jawab mimpiku. Ah sebuah percakapan yang membosankan, berulangkali lunglai di dalam lintas waktuku. "Aku sedang mencoba memisahkan aku dengan mimpiku". ujar diriku lagi berulangkali. "Ini sebuah kenyataan yang tak lekang oleh waktu , serta tak terurai oleh zat waktu", ujar mimpiku lagi. "Kau adalah aku, dan... aku adalah kenyataan dirimu", mimpiku menegaskan.
Aku telah berusaha sejak dulu untuk mengidentifikasi diriku tanpa mimpiku turut serta. Tapi suara yang muncul dari dalam nuraniku begitu kencang, Padahal aku juga berusaha untuk menentang kehadiran mimpi di dalam "pandangan" perilaku yang berbeda. Ini, adalah sebuah monolog yang tiada berkesudahan sepanjang kehidupanku.
Aku berusaha memutus mata rantai ini sejak lama. Berusaha membagi pelbagai bentuk. Fragmentasi. Bersetuju dengan teori yang ada....hingga;
"Akhirnya aku menemukan diriku bukan kesendirian di dalam sebuah semesta yang demikian besar untuk memutuskan, aku akan tetap bersama mimpiku".
"Mimpiku tidak akan mengganggu aku, bahkan tak akan melenyapkan diriku".
"Engkau adalah kekosonganku dan keter-isi-anku".
"Engkau tidak memerlukan penjelasan apa pun!".
Begitu banyak hal dalam hidup ini kulalui. Kepedihan dan kebahagiaan. Begitu banyak makna yang coba kupahami. Begitu banyak kebodohan melintasi pikiran, dan begitu banyak kesempatan telah menjadi bagian dari jejak kehidupanku. Namun tak semua pernah kumengerti dalam arti sebenarnya....Aku masih memerlukan begitu banyak kosa kata dan terminologi agar dapat membentuk garis lurus atau melengkung mengguratkan esensi identitas perjalanan itu sendiri. Mimpi dan kenyataan...Dan tentunya identitasku.
Kini aku dan mimpiku sedang berada di sebuah negara bernama Indonesia...Membentangkan mimpiku seluas jagadnya. Konon negeri ini dahulu adalah sebuah kerajaan Atlantis yang luar biasa luasnya dan menghasilkan sebuah peradaban yang tak terbantahkan!
Jiwa
Menyadari aku dan jiwaku, berbeda dengan aku dan mimpiku. Tapi satu hal yang tak bisa kupungkiri kesamaannya adalah jiwa dan mimpiku tidak akan pernah mati. Aku yakin saat Pythagoras mengatakan itu limaratus tahun sebelum Masehi....bahwa itu benar. Dan saat ini, aku menyatakan persetujuanku bahwa hal itu benar.
Ada sebuah keadaan dimana aku merasakan bahwa ada sebuah "ketetapan" yang datang padaku. Mungkin persis seperti engkau merasakan bernafas secara normal. Tentang: "Bahwa engkau adalah sesuatu. Engkau akan menjadi sesuatu". "Engkau akan mengalami suatu proses kehidupan yang menyakitkan". "Engkau akan melalui banyak periode membingungkan dalam hidupmu". Dan, ketetapan-ketetapan lain yang seperti laiknya mimpi namun dibahasakan dalam jiwa....yang pada kesadaran berikutnya merupakan proses kehidupan yang kulalui.
Tidak cukup mudah melalui pemahaman berliku dengan paradigma pekat (ganting), yang ketika jiwaku nelangsa, aku kehilangan aturan mainnya (pakem). Jiwa inti-pati mengikat kelangsunganku bersama mimpiku. Aku, adalah sebuah kenyataan. Aku terperangkap dalam tubuh. Tubuh manusia. Jiwa adalah ruh yang melesat menempuh ruang-ruang dan waktu-waktu yang tak sempat kumiliki. Atau tepatnya tak kusadari sepenuhnya. Jiwaku menjadi a-krodati dalam tubuh ringkihku. Kebenaran itu dapat kutemukan dengan cara berpikirku bukan perbuatanku atau bahkan perbuatan orang lain.
Substansi jiwa dan mimpi kurasakan dalam diriku. Aku terhubung! Bahkan aku terhubung dengan Aristoteles yang mungkin hidup dalam lampaunya tigaratus tahun sebelum Masehi, seorang murid Plato. Dalam sebuah pergulatan pemikiran yang aneh. Aku terhubung dengan dia, seperti halnya telepon seluler. Aku bercakap-cakap dalam percakapan yang panjang.... Serta berbahasa multi-dimensional....Aku berusaha keras untuk memisahkan jiwa dan tubuhku. Jiwa dan mimpiku. Tubuhku mengalah! Walau mereka tetap menjadi sebuah kesatuan yang tidak mudah dibinasakan.
Kosmos
Aku berada di dalam sebuah keanekaragaman alam dan semesta. Amplitudo bumi. Menemukan betapa dimensi kekasaran dan seksualitas bumi mencekam pemahamanku. Ia memberikan keseimbangan tanpa harus memandang keluar dari jendela mata untuk mencari alasan lainnya. Bila ingin tetap bertanya; dunia sudah berisi penuh dengan orang-orang beriman dan orang-orang kafir. Ini adalah kemegahan Tuhan memegang kekuasaan, memberi proporsiNya pada pengetahuan tentang realisme, spiritualisme, dan estetika atau intelektual manusia. Dan manusia memandang kepemilikkan tubuh seseorang adalah satu paket dengan mimpi dan jiwanya.....
"Mengapa aku juga mengatakan demikian?" . "Mengapa aku melakukan pembenaran itu?". "Mengapa aku harus menyentuh begitu dekat hal-hal yang demikian subjektif dan penuh kebimbangan?". "Dapatkah aku melepaskan keterikatan dari pemikiran itu?". Semua pertanyaan tersebut selalu merayapi tubuh dan jiwaku. Aku menjadi kembara yang tak lekang berfikir. Aku sudah menjadikan diriku objek sesungguhnya dari sebuah pencarian. Pencarian absurd tentang diriku sendiri!
Sesungguhnya aku tidak memiliki pencapaian apa pun untuk menceritakan tentang diriku. Hanya dengan sebuah kepercayaan yang begitu kental, bahwa aku akan menemukan tujuan akhir dan penemuan yang pasti. Tentang konspirasi aku, jiwa dan mimpi. Tentang sebuah ketetapan Sang Maha Pemilik seluruh muasal kosmik ini. Aku hanya sebutir zarah tak berdaya. Bergulir ke sana kemari mencoba menemukan arti. Bermain dalam logika. Terjerembab di kedangkalan pengetahuan jagad raya. Aku memasuki sebuah peradaban cerita. Cerita kehidupanku sendiri. Akulah si tokoh itu....
No comments:
Post a Comment