96
Sebuah lelucon Groucho Marx, ketika ia diminta menunjukkan kartu identitasnya: "Maaf, aku tidak punya foto. Tapi tuan bisa ambil jejak kakiku. Itu ada di kaos kakiku."
Ada foto, ada jejak kaki.
Yang pertama perwujudan diri yang terang. Tapi yang sering dilupakan: foto adalah sebuah kelaziman manusia selama ribuan tahun untuk menuntut visualisasi-tuntutan yang kian meluas sejak Plato. Kita hidup dalam kebudayaan okulosentris hampir sepenuhnya kita mengartikan yang "diketahui" sama dengan yang "tampak", dan segala sesuatu yang berkaitan dengan "mata" pun berjibun memenuhi bahasa...
Kebudayaan okulosentris memang mendatangkan pelbagai teknologi visual yang menakjubkan. Tapi ada sejarah kekuasaan yang tak dapat diabaikan ketika ruang dibaca sebagai peta, Sabda sebagai Kitab, dan gelap dianggap kekurangan. Seperti kata Derrida, "Ada pertemanan yang kuno dan rahasia antara cahaya dan kekuasaan."
Sebuah foto adalah hasil sebuah proses yang agresif; mereka memakai kata shooting dan shot di sini. Sebagai tanda identitas, ia disahkan oleh kekuasaan yang menyusup tata simbolik-bahasa, hukum, adat, negara. Ia dipatok dan dikerangka oleh tata itu. "Hai, lihat, orang Negro!" seru seorang anak kecil di sebuah jalan di Paris waktu melihat Franz Fanon lewat. Fanon dengan segera tahu, siapa gerangan dirinya tak ditentukannya sendiri.
Itu sebabnya ucapan Groucho Marx, seraya melawak, merupakan perlawanan. Ia tak meletakan foto dalam posisi yang menentukan. Ia menunjuk unsur kedua dalam dikotomi kita: jejak kaki di kaos kaki...
Yang terbayang dari kata-kata itu adalah bekas perjalanan, tanda-tanda yang maknanya serba mungkin, dan sesuatu yang besok bisa terhapus oleh perjalanan baru.
hal 156 dari buku Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, Goenawan Mohamad, 2008.
No comments:
Post a Comment