My choice poem for you, D dearest;
from Sitok Srengenge "ON NOTHING"
OSMOSIS OF ORIGIN
I ask the wind,
whence does reverie come,
the wind shakes the tips of leaves
and I see the tree paint the cycle of years
I ask the tree,
whence does time begin,
the tree opens up its flower petals
and I see a bee alight down sucking honey
I ask the bee,
whence does the cell that begat my body originate,
the bee hums flying into a cave
and I see a bat shut its ears upon a stone wall
I ask the bat,
whence does sound emerge,
the bat flaps its wings up to the night sky
and I see dew glide down like a river
I ask the river,
whence does the source of milk flows,
the river shows off the mountain
and I see a valley shrouded in mist
I ask the valley,
whence does taboo arrive,
the valley raises its shroud
and I see the naked earth swing in elegance
I ask the earth,
who does give birth to Mother,
the earth blushes, but I hear the sea answer,
"She witnesses upon fact, yet is incapable of utterance!"
I ask the sea,
who does contain her,
the sea roars, yet it drained
before completely spelling the Name
page 195-197
(aku bertanya kepada angin, dari mana asalnya angan, angin menggoyangkan pucuk-pucuk daun, dan kusaksikan pohon-pohon melukis lingkaran tahun, aku bertanya kepada pohon, dari mana datangnya waktu, pohon merekahkan kelopak bunga, dan kusaksikan lebah hinggap menghisap madu, aku bertanya kepada lebah, dari apa sel yang tumbuh dalam tubuhku, lebah bergumam terbang ke dalam gua, dan kusaksikan kelelawar menangkup kuping di dinding batu, aku bertanya kepada kelelawar, dari mana awalnya suara, kelelawar mengepak sayap ke langit malam, dan kusaksikan embun bergulir serupa sungai, aku bertanya kepada sungai, dari mana sumber air susu, sungai menjulangkan gunung, dan kusaksikan lembah bergaun kabut, aku bertanya kepada lembah, dari mana mulanya tabu, lembah menyingkap gaun, dan kusaksikan bumi bugil menggeliat anggun, aku bertanya kepada bumi, siapa yang melahirkan ibu, bumi tersipu tapi kudengar laut menyahut, "ia bersaksi atas fakta, namun tak berdaya untuk bicara!", aku bertanya kepada laut, siapa yang menampungnya, laut menggelora, tapi kerontang sebelum usai membilang Nama)
Search This Blog
Tuesday, September 23, 2008
Friday, September 12, 2008
Mencatat Tatal 96 nya Goenawan Mohamad
96
Sebuah lelucon Groucho Marx, ketika ia diminta menunjukkan kartu identitasnya: "Maaf, aku tidak punya foto. Tapi tuan bisa ambil jejak kakiku. Itu ada di kaos kakiku."
Ada foto, ada jejak kaki.
Yang pertama perwujudan diri yang terang. Tapi yang sering dilupakan: foto adalah sebuah kelaziman manusia selama ribuan tahun untuk menuntut visualisasi-tuntutan yang kian meluas sejak Plato. Kita hidup dalam kebudayaan okulosentris hampir sepenuhnya kita mengartikan yang "diketahui" sama dengan yang "tampak", dan segala sesuatu yang berkaitan dengan "mata" pun berjibun memenuhi bahasa...
Kebudayaan okulosentris memang mendatangkan pelbagai teknologi visual yang menakjubkan. Tapi ada sejarah kekuasaan yang tak dapat diabaikan ketika ruang dibaca sebagai peta, Sabda sebagai Kitab, dan gelap dianggap kekurangan. Seperti kata Derrida, "Ada pertemanan yang kuno dan rahasia antara cahaya dan kekuasaan."
Sebuah foto adalah hasil sebuah proses yang agresif; mereka memakai kata shooting dan shot di sini. Sebagai tanda identitas, ia disahkan oleh kekuasaan yang menyusup tata simbolik-bahasa, hukum, adat, negara. Ia dipatok dan dikerangka oleh tata itu. "Hai, lihat, orang Negro!" seru seorang anak kecil di sebuah jalan di Paris waktu melihat Franz Fanon lewat. Fanon dengan segera tahu, siapa gerangan dirinya tak ditentukannya sendiri.
Itu sebabnya ucapan Groucho Marx, seraya melawak, merupakan perlawanan. Ia tak meletakan foto dalam posisi yang menentukan. Ia menunjuk unsur kedua dalam dikotomi kita: jejak kaki di kaos kaki...
Yang terbayang dari kata-kata itu adalah bekas perjalanan, tanda-tanda yang maknanya serba mungkin, dan sesuatu yang besok bisa terhapus oleh perjalanan baru.
hal 156 dari buku Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, Goenawan Mohamad, 2008.
Sebuah lelucon Groucho Marx, ketika ia diminta menunjukkan kartu identitasnya: "Maaf, aku tidak punya foto. Tapi tuan bisa ambil jejak kakiku. Itu ada di kaos kakiku."
Ada foto, ada jejak kaki.
Yang pertama perwujudan diri yang terang. Tapi yang sering dilupakan: foto adalah sebuah kelaziman manusia selama ribuan tahun untuk menuntut visualisasi-tuntutan yang kian meluas sejak Plato. Kita hidup dalam kebudayaan okulosentris hampir sepenuhnya kita mengartikan yang "diketahui" sama dengan yang "tampak", dan segala sesuatu yang berkaitan dengan "mata" pun berjibun memenuhi bahasa...
Kebudayaan okulosentris memang mendatangkan pelbagai teknologi visual yang menakjubkan. Tapi ada sejarah kekuasaan yang tak dapat diabaikan ketika ruang dibaca sebagai peta, Sabda sebagai Kitab, dan gelap dianggap kekurangan. Seperti kata Derrida, "Ada pertemanan yang kuno dan rahasia antara cahaya dan kekuasaan."
Sebuah foto adalah hasil sebuah proses yang agresif; mereka memakai kata shooting dan shot di sini. Sebagai tanda identitas, ia disahkan oleh kekuasaan yang menyusup tata simbolik-bahasa, hukum, adat, negara. Ia dipatok dan dikerangka oleh tata itu. "Hai, lihat, orang Negro!" seru seorang anak kecil di sebuah jalan di Paris waktu melihat Franz Fanon lewat. Fanon dengan segera tahu, siapa gerangan dirinya tak ditentukannya sendiri.
Itu sebabnya ucapan Groucho Marx, seraya melawak, merupakan perlawanan. Ia tak meletakan foto dalam posisi yang menentukan. Ia menunjuk unsur kedua dalam dikotomi kita: jejak kaki di kaos kaki...
Yang terbayang dari kata-kata itu adalah bekas perjalanan, tanda-tanda yang maknanya serba mungkin, dan sesuatu yang besok bisa terhapus oleh perjalanan baru.
hal 156 dari buku Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai, Goenawan Mohamad, 2008.
Wednesday, September 10, 2008
Am I obsessed with?
Percakapan sunyi di 18 Juni 2008
9:45
Kau: biasanya hubungan manusia dengan Allah pupus (gelap) apabila apa yang sudah didapat tidak diakuinya sebagai kebenaran (ingkar). Aku hanya memberi petunjuk agar kau mendapat kunci dan kemudian membuka pintu surga..
9:49
Aku: aku tidak mengingkari apa yang sudah kudapatkan, yang terjadi adalah setelah aku makin luluh (pasrah), yang kudapatkan semakin luar biasa dan kenikmatan yang Illahiyah itu membuatku makin bertauhid. Kegalauanku muncul karena bertanya: "mengapa aku mendapatkannya?"
9:55
Kau: Jangan goyahkan keimananmu! majulah terus, karena apa yang kau dapatkan barulah awal, masih banyak lagi yang luar biasa yang dimiliki Allah, dan belum kau ketahui. Saranku, imani terus ya...amin.
11:20
Kau: Banyak kisah-kisah yang terjadi sebelum kita dilahirkan, mungkin kisahnya mirip atau sama, cuma berbeda waktu dan pelakunya. Jadikan hal tersebut semacam "up-date", sehingga lebih kontekstual dan mudah mencernanya.
11:39
Aku: Maaf. Tadi kau mengatakan kisah-kisah. Apa hubungannya dengan "cahaya"? Penggambaran yang pernah kulihat hanyalah metaphora seperti : mata, alismata, bolamata, sinarmata tanpa makna, bibir, mulut, hidung, silhuet wajah seseorang dari samping, burung berleher jenjang, angsa, kubah masjid, bangunan terbuat dari pasir berwarna putih pucat, titik-titik air, permukaan lautan, gelombang laut biru pekat, lorong hitan tetapi terang. Hanya itu, dan aku belum paham maknanya...secara segmen mau pun keseluruhan...
12:30
Kau: Baca kembali Al Qur'an dan terjemahannya. Selalu ada perumpamaan. Barangkali kisah-kisah para Rasul/Nabi...pasti ada kemiripan dengan pengalamanmu. Perdalamlah makna tentang misalnya: burung, gunung, laut dll. Juga yang dikisahkan melalui Nabi-nabi. Musa melihat cahayaNya di gunung Thursina, membelah laut...coba sambungkan, pasti ada kemiripan dengan "penglihatanmu".
12:07
Aku: Nah itulah, kemampuanku untuk menyempurnakan "mosaik penglihatan" itu masih berupa embrio...tolong bantu aku untuk menemukan hikmahnya...
12:09
Bismillahirrahmanirrahim. Alam nasyroh laka shadrak, wawdha'naa anka wizrak. Alladzii anqadha zhahrak. Warafa naa laka dzikrak. Fa inna ma'al usri yusraa. Fa idzaa faraghta fanshab. Wa ilaa robbika farghab.
9:45
Kau: biasanya hubungan manusia dengan Allah pupus (gelap) apabila apa yang sudah didapat tidak diakuinya sebagai kebenaran (ingkar). Aku hanya memberi petunjuk agar kau mendapat kunci dan kemudian membuka pintu surga..
9:49
Aku: aku tidak mengingkari apa yang sudah kudapatkan, yang terjadi adalah setelah aku makin luluh (pasrah), yang kudapatkan semakin luar biasa dan kenikmatan yang Illahiyah itu membuatku makin bertauhid. Kegalauanku muncul karena bertanya: "mengapa aku mendapatkannya?"
9:55
Kau: Jangan goyahkan keimananmu! majulah terus, karena apa yang kau dapatkan barulah awal, masih banyak lagi yang luar biasa yang dimiliki Allah, dan belum kau ketahui. Saranku, imani terus ya...amin.
11:20
Kau: Banyak kisah-kisah yang terjadi sebelum kita dilahirkan, mungkin kisahnya mirip atau sama, cuma berbeda waktu dan pelakunya. Jadikan hal tersebut semacam "up-date", sehingga lebih kontekstual dan mudah mencernanya.
11:39
Aku: Maaf. Tadi kau mengatakan kisah-kisah. Apa hubungannya dengan "cahaya"? Penggambaran yang pernah kulihat hanyalah metaphora seperti : mata, alismata, bolamata, sinarmata tanpa makna, bibir, mulut, hidung, silhuet wajah seseorang dari samping, burung berleher jenjang, angsa, kubah masjid, bangunan terbuat dari pasir berwarna putih pucat, titik-titik air, permukaan lautan, gelombang laut biru pekat, lorong hitan tetapi terang. Hanya itu, dan aku belum paham maknanya...secara segmen mau pun keseluruhan...
12:30
Kau: Baca kembali Al Qur'an dan terjemahannya. Selalu ada perumpamaan. Barangkali kisah-kisah para Rasul/Nabi...pasti ada kemiripan dengan pengalamanmu. Perdalamlah makna tentang misalnya: burung, gunung, laut dll. Juga yang dikisahkan melalui Nabi-nabi. Musa melihat cahayaNya di gunung Thursina, membelah laut...coba sambungkan, pasti ada kemiripan dengan "penglihatanmu".
12:07
Aku: Nah itulah, kemampuanku untuk menyempurnakan "mosaik penglihatan" itu masih berupa embrio...tolong bantu aku untuk menemukan hikmahnya...
12:09
Bismillahirrahmanirrahim. Alam nasyroh laka shadrak, wawdha'naa anka wizrak. Alladzii anqadha zhahrak. Warafa naa laka dzikrak. Fa inna ma'al usri yusraa. Fa idzaa faraghta fanshab. Wa ilaa robbika farghab.
Another Holderlin's poem
....this poem profoundly related to my life
The Course of Life
You too wanted better things,
but love forces all of us down.
Sorrow bends us more forcefully,
but the arc doesn't return to its point of origin without a reason.
Upwards or downwards!
In Holy Night,
where mute Nature plans the coming days,
doesn't there reign in the most twisted Orcus
something straight and direct?
This I have learned.
Never to my knowledge did you,
all-preserving gods,
like mortal masters,
lead me providentially along a straight path.
The Course of Life
You too wanted better things,
but love forces all of us down.
Sorrow bends us more forcefully,
but the arc doesn't return to its point of origin without a reason.
Upwards or downwards!
In Holy Night,
where mute Nature plans the coming days,
doesn't there reign in the most twisted Orcus
something straight and direct?
This I have learned.
Never to my knowledge did you,
all-preserving gods,
like mortal masters,
lead me providentially along a straight path.
Poems of Frierich Holderlin (1770-1843)
At the Middle of Life
The earth hangs downto the lake,
full of yellow pears and wild roses.
Lovely swans,
drunk with kisses you dip your heads into the holy,
sobering waters.
But when winter comes,
where will I find the flowers,
the sunshine,
the shadows of the earth?
The walls stand speechless and cold,
the weathervanes rattle in the wind.
**translation by James Mitcell
I just impressed his poem after reading Goenawan Mohamad's book: Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai or On God and Other Unfinished Things (080908)
The earth hangs downto the lake,
full of yellow pears and wild roses.
Lovely swans,
drunk with kisses you dip your heads into the holy,
sobering waters.
But when winter comes,
where will I find the flowers,
the sunshine,
the shadows of the earth?
The walls stand speechless and cold,
the weathervanes rattle in the wind.
**translation by James Mitcell
I just impressed his poem after reading Goenawan Mohamad's book: Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai or On God and Other Unfinished Things (080908)
Subscribe to:
Posts (Atom)