Search This Blog

Sunday, April 27, 2008

Krisis Kepemimpinan

Hanya mencatat kembali tulisan akhir Benny Susetyo
dalam Suara Pembaruan, Kamis 28 Feb 2002.

Kita saat ini mengalami krisis kepemimpinan. Selama ini manusia hanya sekedar instrumen dari kekuasaan. Ketika manusia menjadi instrumen kekuasaan, maka penguasa berusaha melestarikan sistem politik yang fasis alias otoriter, menindas kaum miskin yang lemah demi tercapainya kepentingan pribadinya. Hal itu kurang kita sadari selama ini, di alam di mana muncul ketidakjelasan arah. Salah satunya disebabkan karena gagalnya pendidikan dalam proses manusia jadi merdeka; yang dihasilkan hanya manusia setengah jadi, bukan manusia yang utuh. Mereka sekarang hanya sekadar menjadi alat kekuasaan. Mentalitas mereka hanya menjilat, tidak konsisten, lebih menyukai yang enak dan instan, serta mudah menjadi bunglon.
Akar semua problem itu adalah karena kita masih memandang rendah pendidikan yang membebaskan dan memerdekakan, meski kita beramai-ramai membangun gedung pendidikan, kurikulum dan sistem pendidikan. Kita masih terjebak untuk membangun monumen kekuasaan dan melupakan hal yang mendasar, yakni mendidik manusia untuk jadi merdeka. Mengapa semua terjadi? Jurgen Habermas mengatakan bahwa selama ini manusia modern terjebak pada pola mekanistis. Akibatnya, kita tidak sadar bahwa kita hanya menjadi instrumen belaka, baik instrumen kekuasaaan mau pun instrumen teknologi.

Padahal sebagai manusia, kita telah diberikan kehendak bebas oleh Tuhan untuk menjadi manusia merdeka. Manusia yang merdeka adalah manusia yang menjadi dirinya sendiri dan menjadi pengendali instrumen tersebut, bukan menjadi budak dan dikendalikan instrumen yang diciptakannya sendiri.

Dan saat ini, jika berbagai kerisauan di atas tidak segera disadari, maka bangsa ini akan mengalami keterasingan: situasi yang membuat moralitas di ambang kehancuran.

@Teman tersayang,
menuliskan ini hanya merefleksikan "kesadaranku"
untuk mengatakan bahwa pemikiranmu selama ini memiliki
komitmen-konsistensi-koheren dengan apa yang tertera di atas....
Sudah saatnya engkau muncul ke permukaaan......
Sudah saatnya engkau mengarahkan bangsa ini...
Sudah saatnya engkau menjadi pengendali....
Saat menjadi Guru (digugu dan ditiru) kebajikan, kebijakan dan kebijaksanaan yang kau "simpan" ...

Tuesday, April 22, 2008

PIKIRAN (MIND)


AKU BELAJAR & MENEMPATKAN DIRIKU DI MASA DEPAN MENJADI KINI
(I learn the lessons and I place myself where the future becomes present)
SELURUH KEKUATAN TELAH SIAP BEKERJA MELENGKAPI DAN MENGGEMBIRAKANKU (All forces have been steadily employed to complete and delight me)
DAN PADA TITIK INI, AKU BERDIRI DENGAN JIWAKU YANG GAGAH
(
Now on this spot, I stand with my robust soul)

WAKTU LAMPAU DAN KINI LUNGLAI
(The past and present wilt)
AKU PERNAH MENGISINYA ATAU MENGOSONGKANNYA
(I have been filled them or emptied them)
DAN, DALAM PROSES MENGISI LEMBARAN MASA DEPAN BERIKUTNYA
(And proceed to fill my next fold of the future)

HAL YANG KAU BERIKAN KUTERIMA DENGAN BAHAGIA
(What you give me I cheerfully accept)
ENGKAU ADA DI SINI - SANGAT HIDUP DAN JELAS
(
That you are here -- very life exists and identity)
PERMAINAN YANG PENUH TENAGA BERLANGSUNG
(That the powerful play goes on)
DAN ENGKAU HADIAHKAN PUISI BAGI PERJALANAN HIDUPKU
(and you may contribute verse of my life journey)

LALU AKU BERPIKIR KE BELAKANG
(Than I think backward)
TENTANG KEPATUHAN, KEPERCAYAAN, KELEKATAN,
(Of obedience, faith, adhesiveness)
SAAT AKU BERDIRI DI SINI DAN MELIHAT
(As I stand here and look)
DI SANA ADA SESUATU YANG SANGAT

MEMPENGARUHI SEJUMLAH MASSA,
(there is to me something profoundly

affecting in large masses of men)
MENGIKUTI PEMIMPIN YANG TIDAK MEMPERCAYAI MANUSIA LAIN
(following the lead of those who do not believe in men)
SERIBU PRIA DAN WANITA TERBAIK HILANG
(A thousand perfect men and women will fade away)

SAAT INI ADALAH PENTING

UNTUK MENDORONG DIRI KITA MENGENALI,
(This time is important

to force ourselves for knowing)
HANYA DIRI KITA YANG MENGERTI DIRI KITA DAN BENTUKNYA
(Only ourselves understand ourselves and the like of ourselves)
SEPERTI JIWA MENGENAL JIWANYA
(As souls only understand souls)

OH, AKU PERCAYA PADA MASA DEPAN
(Oh, I trust to the future)
DIMANA AKU BUKAN HANYA AKU TETAPI KITA,

DAN KITA MENJADI KAMI
(Where I not only I but we,

and we'll change become us)
KITA SEPERTI JUGA ATMOSFIR,
(We are what the atmosphere is,)
BENING, MUDAH MENERIMA, MUDAH MEMAHAMI, TAK MUDAH DIPAHAMI (transparent, receptive, pervious, impervious)

DAN AKU JUGA MELIHAT JALAN AKAN DITERUSKAN,
(And I also see the road will be continue)
KEMUDIAN PERJALANAN AKAN DILANJUTKAN..
(than the journey ever continued..)

Note: Truly inspired by Walt Whitman (American poet, journalist, lover of freedom) 1819-1892

Friday, April 11, 2008

110408

Hari ke-40 mu

Shaum,
tindakan yang paling Illahi,
karena hanya untuk Allah
engkau lakukan hal yang paling rahasia
sebuah sensasi bukan ragawi
tapi kerajaan ruh
Nabi pun mungkin tak berpuasa selama itu
berturut-turut dalam hari

engkau lalui hal yang muskil kau lakukan
bahkan ketika Ramadhan tiba
namun kau jelujuri semua ketidaksanggupan masa lalu
untuk kekinian yang bermakna kelu

40 hari shaum sunnahmu berakhir sudah
mungkin perangmu belum usai - tak akan usai
40 hari puasamu anugrah
menjadi satu perisai - satu misai
40 hari tapabratamu adalah gerai
menggelar jutaan impian di lautan rinai