Search This Blog

Saturday, December 29, 2007

Puisi terkirim

Langkah perjalanan ini pernah terjejak di dalam benak kita. Ternyata menjadi kenyataan terpijaki bersama. Detaknya sama dengan jutaan gemuruh pacu jantung. Elahan demi elahan menjadi musik samar. Ditengarai pernah didengar di suatu masa hidup dulu. Dulu sekali...Sehingga ingatan tentang kapannya, tertelan bumi. Mosaik peristiwa merubah dirinya menjadi lempengan metal. Berwarna merah tembaga. Memantul-mantul...Menyilaukan kesadaran...sampai ke ambang. Batas nisbi. Gairah terseret arus panas meronta-pontal. Udara lindap memadat menjelajahi jiwa lalu kita menggerah. Mencari nafas sebiru samudera. Ada tanya yang tak berujung jawab. Seruntun tafsir yang tak punya makna. Sekelumit tatap menjeritkan ribuan kata. Gelembung-gelembung udara penuh fatamorgana. Meraih kenyataan kehilangan fananya. Hidup ini, penuh episode penantian. Ke penantian berikutnya...

No comments: