Sepi merayap seperti semut merah di ranting pohon mangga,
jangan pernah mencoba untuk menjamahnya, karena sengatannya perih
matahari senja sempat berkelebat mencoba menadah sebagian beban sepi
tapi tak sanggup, karena sinarnya menggelincir turun dipaksa dewata
di antara kegelapan petang, ia menggapai angin,
namun tak pernah benar-benar berguna mengisinya penuh,
bulan sabit kejinggaan menebar senyum arif
menggadaikan kegamangan yang tak selesai oleh waktu,
berjingkat-jingkat sungkan, akan kusimpan sepi dalam periuk tanah
mengayaunya pada saat fajar
agar bersama melompat mengejar cahaya
namun embun melenyapkannya sebelum renyai
aaaaaggggrrrrrhhhhhhh!
No comments:
Post a Comment